Nasional

Jejak Karier Suyudi Ario Seto, dari Resmob hingga Memimpin Polri

Oleh admin · Senin, 5 Oktober 2026 - 07:46 WIB · Dibaca 4 kali

JAKARTA. Berswarafakta. Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto meniti perjalanan panjang di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) sebelum dipercaya menduduki posisi tertinggi sebagai Kapolri.Senin.05/10/2026.

Lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1994 itu mengawali karier dari sejumlah posisi operasional dan reserse. Perjalanan tersebut membawanya dari jajaran Resmob Polda Metro Jaya hingga sejumlah jabatan strategis di tingkat daerah maupun pusat.

ko

Suyudi lahir di Pandeglang, Banten, pada 14 Juli 1973. Setelah menyelesaikan pendidikan di Akpol, ia pernah bertugas sebagai Kanit II Resmob Polda Metro Jaya dan Kapolsek Pasar Minggu.

Kariernya kemudian berlanjut di bidang reserse dengan menduduki sejumlah jabatan Kasat Reskrim. Ia selanjutnya dipercaya memimpin sejumlah wilayah kepolisian, antara lain sebagai Kapolres Majalengka, Kapolres Bogor, Kapolresta Bogor Kota, hingga Kapolres Metro Jakarta Pusat.

Berpengalaman di Kejahatan Ekonomi dan Siber

Pengalaman Suyudi tidak hanya berada di level kewilayahan. Di lingkungan Bareskrim Polri, ia dipercaya menduduki posisi Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus serta Wakil Direktur Tindak Pidana Siber.

 

Penugasan tersebut memperkuat pengalamannya dalam menangani kejahatan yang memiliki karakter semakin kompleks, termasuk tindak pidana dan kejahatan berbasis teknologi informasi.

Saat menjabat Kapolda Banten, Suyudi dikenal aktif turun ke lapangan dan berkomunikasi dengan berbagai elemen masyarakat. Pendekatan tersebut berjalan beriringan dengan penegakan hukum dan pemeliharaan keamanan di wilayah tersebut.

Sepanjang 2024, Polda Banten di bawah kepemimpinannya menangani 4.155 tindak pidana. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.509 perkara dilaporkan berhasil diselesaikan.

Memimpin BNN dan Fokus pada Pemberantasan Narkotika

Sebelum dipercaya menjadi Kapolri, Suyudi mendapat mandat memimpin Badan Narkotika Nasional (BNN). Ia dilantik sebagai Kepala BNN pada 25 Agustus 2025.

Dalam masa kepemimpinannya, BNN melakukan sejumlah operasi pemberantasan jaringan narkotika. Salah satunya melalui penindakan terhadap kawasan yang dikategorikan sebagai kampung narkoba.

Sebanyak 53 kampung narkoba di 34 provinsi disebut telah ditangani. Dalam rangkaian operasi tersebut, 1.259 orang diamankan.

Dua kawasan yang selama ini dikenal sebagai lokasi peredaran narkotika di Jakarta, yakni Kampung Ambon dan Kampung Bahari di Jakarta Utara, juga menjadi bagian dari upaya pemberantasan tersebut.

BNN juga menggagalkan penyelundupan sekitar dua ton sabu dengan nilai yang diperkirakan mencapai Rp5 triliun. Dalam pengembangan perkara itu, aparat menangkap Dewi Astutik alias Mami atau Dinda, yang disebut sebagai buronan utama, di Kamboja melalui kerja sama dengan aparat penegak hukum internasional.

Kasus lain yang ditangani adalah upaya penyelundupan 3,37 ton ganja dari Thailand yang disamarkan dalam kontainer. Pengungkapan tersebut disebut mencegah potensi kerugian ekonomi sekitar Rp4,585 triliun.

Selain pendekatan penindakan, BNN di bawah kepemimpinan Suyudi juga menjalankan program pemberdayaan masyarakat melalui program Kampung Bersinar.

Di Gayo Lues, Aceh, misalnya, warga yang sebelumnya menanam ganja diarahkan untuk beralih ke tanaman kopi. Sebanyak 12,78 hektare ladang ganja juga dimusnahkan dalam rangkaian kegiatan pemberantasan narkotika.

Secara keseluruhan, BNN mengungkap 773 kasus narkotika dengan 1.214 tersangka diamankan. Aset yang disita dalam pengungkapan tersebut disebut mencapai Rp144,19 miliar.

Tekankan Kepemimpinan yang Turun ke Lapangan

Dalam uji kelayakan dan kepatutan di DPR sebelum memimpin BNN, Suyudi menekankan pentingnya kepemimpinan yang bersentuhan langsung dengan persoalan di lapangan.

“Saya akan turun ke lapangan, bukan untuk cari panggung, tetapi untuk melihat masalah, mendengarkan anggota dan masyarakat, mengambil keputusan, serta memastikan keputusan dilaksanakan,” ujar Suyudi.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu gambaran pendekatan kepemimpinan yang ingin dibangunnya, yakni menggabungkan pengawasan langsung, pengambilan keputusan, dan komunikasi dengan masyarakat serta anggota kepolisian.

Setelah dipercaya menjadi Kapolri, langkah awal Suyudi ditandai dengan penyegaran organisasi melalui mutasi dan rotasi sejumlah perwira.

Kini, perjalanan karier Suyudi memasuki babak baru. Setelah menjalani berbagai penugasan mulai dari fungsi reserse, kepemimpinan kewilayahan, hingga memimpin BNN, ia dipercaya memimpin institusi Polri.

Tantangan di depan pun tidak ringan. Selain menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, Polri di bawah kepemimpinannya menghadapi tuntutan untuk meningkatkan profesionalisme, memperkuat pemberantasan kejahatan, serta membangun kepercayaan publik.

Rekam jejak panjang Suyudi akan menjadi modal awal. Namun, ukuran keberhasilannya sebagai Kapolri pada akhirnya akan ditentukan oleh kinerja institusi yang dipimpinnya dan seberapa jauh kebijakan tersebut dirasakan masyarakat.

Warianto

Bagikan: WhatsApp Facebook X

Tinggalkan Komentar